Jangan asal copy-paste... Blog juga hasil karya cipta... Budayakan meminta izin terlebih dahulu... Minimal tampilkan sumber asal !!!

Pages

Senin, 23 Mei 2011

REFORMASI DAN DEMOKRASI

Pemahaman paling sederhana yang bisa ditangkap :
> Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk raktyat.
> Reformasi adalah suatu perubahan

Reformasi menjadi awal perombakan sistem pengelolaan negara kita yang sebelumnya kurang menunjukkan hakikat negara yang menganut demokrasi.

Kepentingan rakyat dalam bidang politik pada masa orde baru sering diabaikan, sampai sampai masyarakat kurang memiliki peranan, bahkan hampir tidak memiliki peranan. Masyarakat masa itu hanya bisa “membeo” pada keinginan para penguasa.

Di masa orde baru, ketika dipimpin presiden Soeharto pemilu berjalan lancar, tetapi banyak terjadi kecurangan serta intimidasi kepada pemilih, kebebasan politik rakyat dikawal hingga hasil pemilu selalu dimenangi oleh pihak yang paling berkuasa.

Setelah adanya gerakan reformasi pada tahun 1998 disertai dengan jatuhnya preseden Soeharto, makna kebebasan mulai dirasakan rakyat. Dibawah kepemimpinan presiden BJ. Habibie dan Megawati Soekarnoputri yang secara notabene adalah orang sipil, pesta demokrasi dilaksanakan. Pemilu berjalan lancar serta hasilnya bukan dimenangkan oleh presiden yang memerintah.

Pada hakikatnya tujuan tertinggi dari demokrasi adalah kesejahteraan rakyat. Dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun, walaupun telah sembilan tahun era reformasi berjalan, rakyat belum merasakan dampak yang signifikan dalam bidang sosial ekonomi secara merata. Hal ini seakan-akan menjadi benih deviasi dari reformasi.

Hal tersebut dikarenakan tujuan esensial dari reformasi adalah adanya perbaikan bagi rakyat dan di Indonesia setelah kemenangan gerakan reformasi, demokrasi merupakan pilihan yang telah diambil sebagian besar masyarakat. Sembilan tahun lalu hampir seluruh rakyat bersepakat untuk menumbangkan rezim represif dan menggantikannya dengan sistem yang lebih mendengarkan aspirasi rakyat.

Namun lambat laun mulai terdapat banyak suara yang menilai bahwa pencapaian tujuan nasional terutama di bidang pertumbuhan dan keadilan ekonomi sosial berjalan sangat lambat dalam era reformasi dan mulai mempertanyakan efektifitas demokrasi.

Kenyataannya, setelah reformasi bergulir selama sembilan tahun dengan tujuan memberi kebebasan dalam bidang politik dan mensejahterakan rakyat, nampak manfaatnya belum dirasakan rakyat secara optimal.

Mulai terdapat banyak suara yang baik secara eksplisit maupun implisit menghimbau diputar kembalinya roda proses reformasi dengan argumentasi bahwa stabilitas politik dan ekonomi untuk negara semajemuk Indonesia hanya dapat dicapai secara efektif melalui sistem pemerintahan otokrasi yang represif.

Melihat dari sejarah perkembangan berbagai negara di dunia, baik sistem pemerintahan yang demokratis maupun otokratis sama-sama memiliki peluang untuk menciptakan kemajuan dan kesejehateraan masyarakat. Contoh mutakhir adalah India dan China.

India merupakan negara sangat besar dan majemuk yang secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip demokrasi dan desentralisasi sejak berdirinya negara tersebut. Walaupun terasa lambat, saat ini India mampu memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan daya saing industri yang kuat terutama di bidang teknologi informasi dan industri jasa lainnya yang antara lain didorong oleh kreativitas yang tercipta dalam iklim keterbukaan.

Di China sebaliknya, meskipun beberapa simpul kendali perekonomian mulai dilonggarkan, otokrasi tetap secara kokoh dikendalikan oleh Partai Komunis. Namun tetap saja China mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa tinggi dan mengubah dirinya menjadi superpower ekonomi dalam waktu yang relatif singkat. Ini semua didorong oleh efisiensi perencanaan ekonomi sentralistik yang merupakan ciri khas negara otokratis yang antara lain menciptakan sektor manufaktor yang efisien dan kuat.

Kesimpulannya :

Mungkin reformasi memang merupakan puncak demokrasi di Indonesia. Tetapi itu bukan jaminan bagi rakyat Indonesia menatap kehidupan yang lebih baik. Hal ini dikarenakan demokrasi tanpa pembangunan karakter bangsa akan membawa anarki.

Demokrasi bukanlah obat antibiotik yang super mujarab yang dapat secara ajaib menyembuhkan berbagai penyakit sosial yang telah berakar kuat di masyarakat. Bahkan ada yang berpendapat roda reformasi harus diputar kembali dengan argumentasi bahwa stabilitas politik dan ekonomi untuk negara semajemuk Indonesia hanya dapat dicapai secara efektif melalui sistem pemerintahan otokrasi yang represif.

Demokrasi hanyalah salah satu dari begitu banyak pilihan pendekatan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan kolektif suatu masyarakat.

Kutipan dari berbagai literatur

0 komentar:

Poskan Komentar